Butuh Bantuan? Customer Service Omah Buku Muslim siap melayani dan membantu Anda dengan sepenuh hati.
Beranda » Fiqih » Al Mughni jilid 14

Al Mughni jilid 14

  • Ditambahkan pada: 26 August 2015
  • Rp 122.500 Rp 153.000
  • Stock: Tersedia
  • SKU:
  • Dilihat: 521 kali
  • Kategori:
  • « Arahkan kursor pada gambar untuk Zoom
  • « Klik gambar untuk Full Size
Produk Terkait Al Mughni jilid 14
Buku Paket Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid Jilid 1&2 Buku Paket Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid Jilid 1&2
  • Stock: Tersedia
  • SKU:
  • Rp 296.000 Rp 370.000
  • Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid Jilid 2 Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid Jilid 2
  • Stock: Tersedia
  • SKU:
  • Rp 148.000 Rp 185.000
  • Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid Jilid 1 Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid Jilid 1
  • Stock: Tersedia
  • SKU:
  • Rp 148.000 Rp 185.000
  • Pemesanan via SMS
    Anda dapat melakukan pemesanan melalui SMS dengan format sebagai berikut:
    Nama_Alamat_Judul Buku & Jumlah kirim SMS/Whats App ke 087 8080 33400

    Deskripsi Produk Al Mughni jilid 14

    Pembahasan:

    KITAB UPETI 1
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “janganlah menerima upeti kecuali dari orang yahudi atau nasrani atau majusi apabila mereka adalah penduduk (di suatu Negara islam) yang telah disepakati oleh mereka.” 3
    Pasal: Mereka termasuk ahlul dzimmah apabila mereka memenuhi 2 persyaratan: 11
    1688. Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Selain daripada mereka memeluk islam atau diperangi.” 13
    Pasal: Apabila orang-orang kafir tersebut sudah dinyatakan ahlul dzimmah karena mereka merasa dari ahlul kitab 15
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Upeti yang diambil dari mereka berdasarkan atas 3 tingkatan orang yang ekonominya paling bawah 15
    Pasal: Batas kemampuan pada hak mereka apabila orang-orang menganggap bahwa dia adalah orang yang mampu atau kaya dan bukan berdasarkan tingkatan, 18
    Pasal: Apabila mereka membayar upeti maka upeti tersebut harus diterima dan diharamkan memerangi mereka, 19
    Pasal: Upeti diwajibkan apabila sudah sudah di akhir masa tempo, ini yang dikatakan oleh Asy-Syafi’i, 20
    Pasal: Upeti tersebut diambil dari harta-harta mereka dan upeti yang diambil tidak ditetapkan emas atau perak, 20
    Pasal: Tidak dibenarkan menyatakan seseorang ahli dzimmah dan hadnah kecuali dari seorang imam atau wakilnya, 21
    Pasal: Diperbolehkan membuat persyaratan pada ahlul dzimmah apabila menjamu orang muslim yang datang kepada mereka, 21
    Pasal: Al Qadhi menyebutkan bahwa apabila diajukan persyaratan dalam hal penjamuan tamu, 23
    Pasal: Pembagian kunjungan tamu diantara mereka berdasarkan jumlah upeti mereka, 24
    Pasal: Apabila diberikan persyaratan kepada ahlul dzimmah persyaratan yang tidak baik seperti memberikan persyaratan bahwa mereka tidak perlu membayar upeti, 25
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Tidak dikenakan upeti untuk bayi, orang yang tidak waras akalnya dan perempuan.” 26
    Pasal: Apabila ada seorang perempuan membayar upeti padahal sudah diberitahukan kepadanya bahwa perempuan tidak dikenakan upeti, 26
    Pasal: Apabila anak-anak ahlul dzimmah tersebut sudah mulai dewasa dari orang-orang yang sakit sudah sembuh 28
    Pasal: Bagi orang yang gila dan kemudian sembuh maka baginya ada 3 keadaan: 29
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Dan tidak diwajibkan untuk orang fakir.” 30
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Dan tidak diwajibkan untuk orang yang tua renta, orang yang sakit selama bertahun-tahun, dan orang yang buta.” 32
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Dan tidak diwajibkan kepada seorang budak apabila tuannya itu seorang muslim.” 32
    Pasal: Dan yang lainnya adalah orang yang merdeka dan madzhab mengkiaskan bahwa dia wajib membayar upeti 33
    Pasal: Tidak diwajibkan kepada pendeta untuk membayar upeti, 34
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Orang yang diwajibkan baginya untuk membayar upeti 34
    Pasal: Apabila seorang ahlul dzimmah wafat setelah genap setahun maka kewajibannya membayar upeti 36
    Pasal: Tidak diperbolehkan menumpuk-numpuk pembayaran upeti akan tetapi apabila upeti tersebut belum dibayar selama 2 tahun 37
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Apabila dia memerdekakan, maka dia wajib membayar jizyah, 38
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Upeti tidak diambil dari orang nasrani Bani Tughlab sedangkan zakat diambil dari harta-harta mereka 38
    Pasal: Para ulama berpendapat: sedekah akan diambil secara berlipat dari harta orang yang diambil zakatnya 40
    Pasal: Apabila orang-orang dari bani Tughlab membayar upeti akan tetapi dengan nama sedekah, 42
    Pasal: Sedangkan orang-orang ahlul kitab baik dari yahudi maupun nasrani arab dan selain mereka maka upeti yang dibayarkan mereka diterima, 43
    Pasal: Apabila seorang nasrani bani Tughlab berdagang dan keuntungannya melebihi sepersepuluh maka 46
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Dan hewan sembelihan mereka tidak dibolehkan untuk dimakan dan perempuan-perempuan mereka 46
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Barangsiapa dari ahlul dzimmah bepergian ke suatu negeri 48
    Pasal: Maka dalam setahun yang diambil dari mereka hanya sekali, Ahmad mengatakan pada riwayat Jama’ah dari para ulama, 50
    Pasal: Tidak diambil dari mereka selain dari harta dagangan, 51
    Pasal: Riwayat tersebut berbeda-beda dari Ahmad apabila yang datang tersebut membawa khamar atau babi 53
    Pasal: Dibolehkan mengambil nilai dari khamar dan babi dari mereka sebagai upeti dan pajak bumi mereka dengan dalil dari perkataan Umar ini, 54
    Pasal: Apabila seorang ahlul dzimmah yang datang akan tetapi dia memiliki hutang dengan jumlah tertentu 54
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “apabila masuk kepada kita seorang pedagang harbi dengan aman maka diambil darinya sepersepuluh.” 55
    Pasal: Diambil sepersepuluh dari mereka dari setiap harta hasil dagangan pada perkataan Al-Kharqi, 56
    Pasal: Diambil sepersepuluh dari setiap pedagang ahlul harbi dan setengah dari sepersepuluh dari setiap ahlul dzimmah 57
    Pasal: Diambil hanya sekali dalam setahun dan tidak diambil apabila lebih sedikit dari 10 dinar, 58
    Pasal: Tidak seorang ahlul harbi yang memasuki wilayah islam tanpa diberikan perlindungan, 58
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Apabila perjanjiannya dibatalkan disebabkan telah melanggar persyaratan 60
    Pasal: Daerah-daerah muslim terbagi menjadi 4: 64
    Pasal: Barangsiapa dari ahlul dzimmah membangun maka tidak dibolehkan melarangnya kecuali apabila bangunan mereka lebih tinggi dari bangunan orang-orang muslim apabila bersebelahan, 67
    Pasal: Tidak dibolehkan satu pun dari mereka menempati wilayah Hijaz, 69
    Pasal: Dibolehkan mereka memasuki Hijaz untuk berdagang, 71
    Pasal: Sedangkan wilayah Al Haram maka tidak dibolehkan bagi mereka memasukinya, 73
    Pasal: Sedangkan mesjid-mesjid yang sudah ditentukan maka tidak dibolehkan mereka untuk memasukinya tanpa seizing 76
    Pasal: Yang diambil dari ahlul dzimmah terbagi menjadi 5 bagian: 77
    Pasal: Apabila ditetapkan kepada mereka dzimmah maka akan ditulis nama-nama mereka dan nama orang tua mereka 79
    Pasal: Apabila seorang imam wafat atau turun (dari jabatannya), 80
    Masalah: Abu Al Qasim Al Kharqi berkata, “Barangsiapa yang lari dari ahlul dzimmah ke dar Al Harbi 80
    Pasal: Apabila suatu kelompon membatalkan status mereka sebagai ahlul dzimmah maka dibolehkan memerangi mereka dan membunuh mereka, 81
    Pasal: Apabila seseorang ditetapkan sebagai ahlul dzimmah maka mereka harus dilindunginya oleh orang-orang muslim, 81
    Pasal: Apabila bermasalah antara muslim dengan ahlul dzimmah maka masalah mereka harus diputuskan, 82
    Pasal: Pengokohannya tidak dibolehkan dengan memberi mushaf dan hadits Nabi g 84
    Pasal: Tidak boleh menghadirkan mereka didalam suatu majlis dan mendahului mengucapkan salam kepada mereka, 84
    Pasal: Sebagian ahlul dzimmah mengatakan bahwa upeti tidak diwajibkan bagi mereka karena mereka memiliki surat dari Nabi 86
    Pasal: Abu Al-Khitab berkata, “Mereka diuji ketika mengambil upeti. 86
    Pasal: Imam Ahmad berkata tentang seseorang suami yang memiliki istri seorang nasrani, 88
    KITAB HEWAN BURUAN DAN HEWAN SEMBELIHAN 91
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila pemburu telah membacakan bismillah lalu ia melepaskan anjing atau macan peliharaannya yang terlatih, 94
    Pasal: Apabila binatang pemburu meminum darah hasil buruannya dan tidak memakan apapun, 110
    Pasal: Hewan-hewan yang ditangkap oleh binatang pemburu tidak diharamkan meski sebelumnya binatang itu memakan salah satu hewan tersebut. 111
    Pasal: Semua jenis binatang buas yang dapat dilatih dan bisa digunakan untuk berburu hukumnya sama seperti hukum anjing yang terlatih, 113
    Pasal: Apakah membasuh bekas gigitan anjing pada hewan buruan diharuskan? 114
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seorang pemburu melepaskan burung elang atau semacamnya untuk berburu sesuatu, 114
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum larangan memakan hasil buruan yang didapatkan oleh anjing hitam, yaitu anjing yang berwarna hitam legam, 116
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila diketahui hasil buruannya masih hidup namun tidak disembelih secepatnya hingga hewan itu mati, 118
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila tidak ada alat untuk menyembelih hewan yang masih hidup itu, 120
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila pemburu melepaskan anjingnya, 122
    Pasal: Apabila seorang pemburu muslim melepaskan anjingnya, lalu ada orang lain yang beragama majusi 124
    Pasal: Apabila seorang pemburu muslim melepaskan anjingnya lalu ada seorang pemburu majusi yang juga melepaskan anjingnya, 127
    Pasal: Apabila seorang pemburu majusi menggunakan anjing milik pemburu muslim untuk berburu, 127
    Pasal: Apabila sejumlah pemburu melepaskan anjing-anjing mereka untuk berburu hewan buruan dengan masing-masing mengucapkan basmalah, 129
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang telah mengucapkan basmalah dan melemparkan anak panahnya pada seekor hewan buruan, 130
    Pasal: Apabila seorang pemburu melihat ada bayangan berkelibat atau mendengar sesuatu mendesis, 133
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seorang pemburu melepaskan panahnya pada seekor hewan buruan, 135
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seorang pemburu melepaskan panahnya pada seekor hewan buruan, 140
    Pasal: Apabila seorang pemburu melepaskan anak panahnya dengan menyasar seekor burung yang berada di udara, 142
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seorang pemburu melepaskan panahnya dengan menyasar satu hewan buruan, 143
    Pasal: Ahmad menyatakan: Tidak mengapa hukumnya berburu di malam hari. 144
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seorang pemburu melepaskan panahnya untuk menyasar seekor hewan buruan, 145
    Pasal: Ahmad menyebutkan sebuah riwayat, dari Husyaim, dari Mansur, dari Hasan, 148
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seorang pemburu menancapkan arit/sabit di atas tanah sebagai senjatanya, 149
    Pasal: Adapun hewan buruan yang ditangkap dengan menggunakan jaring atau perangkap tali, 151
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seorang pemburu berburu dengan menggunakan mi’radh (kayu atau bambu runcing), 151
    Pasal: Semua alat berburu yang memiliki kesamaan bentuk dengan mi’radh, maka hukumnya juga sama, 153
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seorang pemburu melepaskan senjatanya hingga melukai seekor hewan buruan. 154
    Pasal: Apabila seorang pemburu melepaskan panahnya untuk menyasar seekor hewan buruan, 155
    Pasal: Apabila dua orang pemburu melepaskan panah mereka secara bersamaan untuk menyasar satu ekor hewan buruan, 159
    Pasal: Apabila seorang pemburu melepaskan panahnya untuk menyasar seekor hewan buruan, 161
    Pasal: Para ulama madzhab kami berpendapat, apabila seekor hewan buruan terperangkap di jaring atau tali seseorang, 161
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang menumpang di atas sebuah kapal air, 164
    Pasal: Apabila ikan yang melompat itu melakukan lompatannya sebagai reaksi dari perbuatan seorang pemburu yang bermaksud untuk memburu ikan tersebut, 165
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum larangan memburu ikan dengan menggunakan sesuatu yang najis. 165
    Pasal: Ahmad juga memakruhkan perburuan dengan menggunakan arak, dan juga segala sesuatu yang memiliki nyawa, 166
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum larangan memakan hasil buruan orang murtad ataupun hewan yang disembelih olehnya, 167
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang tidak mengucapkan basmalah tatkala berburu, 167
    Pasal: Pengucapan basmalah untuk penyembelihan dilakukan tepat di saat hendak menyembelih atau bisa juga sesaat sebelumnya sebagaimana niat pada saat thaharah. 170
    Pasal: Apabila seorang pemburu telah mengucapkan basmalah untuk menyasar seekor hewan buruan, 171
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seekor unta melarikan diri dan pemiliknya tidak mampu untuk mengejarnya, 171
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Ahlul kitab memiliki status hukum yang sama dengan orang muslim untuk semua situasi di atas. 174
    Pasal: Pembolehan itu berlaku untuk semua kaum muslimin, dan juga ahlul kitab, baik itu yang fasik ataupun tidak. 175
    Pasal: Pembolehan itu juga berlaku untuk kafir harbi (perang) ataupun kafir zimmi (damai), 176
    Pasal: Apabila seorang ahlul kitab memiliki orang tua yang berbeda agamanya, 177
    Pasal: hewan yang disembelih diperuntukkan sebagai persembahan acara hari besar atau tempat ibadah mereka. 178
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum larangan memakan hewan buruan yang tewas dengan menggunakan peluru timah atau batu, 180
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum larangan memakan hasil buruan orang majusi dan juga sembelihannya, 182
    Pasal: Hukum hewan buruan ataupun hewan yang disembelih oleh orang-orang kafir lainnya selain ahlul kitab 186
    Pasal: Makanan lain yang dibuat oleh orang majusi tidak ada larangan untuk memakannya 186
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum pembolehan memakan ikan yang sudah mati, 187
    Pasal: Memakan bangkai belalang hukumnya diperbolehkan menurut ijma para ulama. 190
    Pasal: Diperbolehkan untuk memakan belalang secara keseluruhan dengan segala isi perutnya. 191
    Pasal: mengenai ikan yang dibakar di atas api 192
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Penyembelihan, untuk hewan buruan yang tertangkap dalam keadaan hidup atau hewan peliharaan, 193
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum dianjurkannya menyembelih dengan cara nahar untuk unta, 199
    Pasal: Disunnahkan agar penyembelihan dilakukan dengan pisau yang sudah ditajamkan, 201
    Pasal: hewan masburah dan mujassamah 202
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila hewan yang seharusnya disembelih dengan cara nahar tapi disembelih dengan cara dzibih, 203
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang menyembelih seekor hewan dan telah memotongnya, 205
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang salah dalam melakukan penyembelihan seekor hewan, 206
    Pasal: Apabila seseorang menyembelih seekor hewan melalui tengkuknya secara sengaja, 207
    Pasal: Menyembelih seekor hewan melalui tengkuknya. 209
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Penyembelihan terhadap hewan betina yang sedang mengandung 209
    Pasal: Meskipun tetap halal untuk dimakan tanpa disembelih terlebih dahulu, 212
    Pasal: Apabila janin itu keluar dalam keadaan hidup dengan nyawa yang stabil dan dimungkinkan untuk disembelih, 213
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum larangan memotong bagian anggota tubuh hewan yang disembelih 213
    Pasal: Makruh hukumnya untuk menguliti hewan yang baru disembelih sebelum hewan itu membeku 214
    Pasal: Apabila seseorang memotong bagian tubuh hewan yang masih dalam keadaan hidup dengan nyawa yang stabil, 215
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Penyembelihan dapat dilakukan oleh siapapun yang mampu untuk melakukannya, 215
    Pasal: Apabila seorang ahlul kitab menyembelih hewan yang diharamkan oleh Allah c kepada umat mereka, 219
    Pasal: Apabila seorang ahlul kitab menyembelih hewan yang dihalalkan, namun ia mengira bahwa hewan itu diharamkan baginya, 220
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila orang yang menyembelih merupakan penyandang tuna wicara (bisu), 221
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang dalam keadaan junub (berhadats besar), 222
    Pasal: Hewan yang mati akibat tercekik, atau dipukul, atau jatuh, 223
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hewan-hewan yang diharamkan adalah hewan-hewan yang ditetapkan oleh Allah 227
    Pasal: Landak juga diharamkan. 230
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Atas dasar sunnah Nabi 231
    Pasal: Baghal (hasil kawin silang antara kuda dengan keledai) juga diharamkan menurut ulama yang mengharamkan keledai jinak, 233
    Pasal: Susu yang dihasilkan dari keledai juga hukumnya haram, menurut sebagian besar ulama. 234
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Semua binatang buas yang memiliki taring hukumnya juga diharamkan. 234
    Pasal: Diharamkan pula memakan kera dan memperjual belikannya. 236
    Pasal: Diharamkan pula untuk memakan musang, rase, 237
    Pasal: Mengenai hukum memakan rubah, 238
    Pasal: Diharamkan pula untuk memakan gajah. 239
    Pasal: Adapun untuk beruang, 240
    Pasal: Diharamkan pula hewan-hewan pemakan bangkai, seperti burung nadzar, 242
    Pasal: Diharamkan pula untuk memakan burung layang-layang, burung walet, dan kelelawar. 243
    Pasal: Selain hewan-hewan yang telah kami sebutkan di atas, maka hukumnya boleh dimakan, 244
    Pasal: Dihalalkan pula segala jenis kuda, 245
    Pasal: Kelinci juga dihalalkan. 247
    Pasal: Dihalalkan pula memakan marmut (sejenis kelinci berwarna abu-abu hitam). 248
    Pasal: hukum memakan terwelu (masih sebangsa kelinci) 248
    Pasal: Semua jenis unggas hukumnya halal kecuali beberapa burung yang kami sebutkan. 249
    Pasal: Para ulama sepakat bahwa kemakruhan dari hewan yang memakan najis termasuk unta julalah dapat gugur dengan memeliharanya. 253
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Semua jenis burung yang memiliki cakar kuku yang dapat mencengkeram 240
    Pasal: Mengendarai unta julalah juga dimakruhkan. 254
    Pasal: Diharamkan memakan buah atau hasil tanaman yang diirigasi dengan air najis atau dirabuk dengan pupuk yang najis. 255
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang berada di dalam situasi darurat hingga terpaksa memakan bangkai, 256
    Pasal: Apabila seseorang dalam keadaan darurat, apakah ia diwajibkan untuk memakan bangkai tersebut atau tidak? 258
    Pasal: Hal-hal yang diharamkan menjadi boleh dikonsumsi ketika dalam keadaan darurat, 260
    Pasal: orang yang sedang dalam keadaan darurat pada suatu perjalanan yang niatnya berbuat maksiat 261
    Pasal: Apakah orang yang sedang dalam keadaan darurat boleh menambah lebih dari satu bangkai? 262
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang melihat buah- buahan, 263
    Pasal: Untuk hasil pertanian, 267
    Pasal: Terkait dengan pemerahan susu hewan ternak, 268
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang sedang dalam keadaan darurat menemukan ada bangkai hewan 270
    Pasal: Apabila seseorang yang sedang dalam keadaan darurat bertemu dengan orang lain yang mau memberinya makan dan minum, 271
    Pasal: Apabila seseorang yang sedang dalam keadaan darurat bertemu dengan orang lain yang memiliki makanan, 271
    Pasal: orang yang sedang berihram mengalami keadaan darurat dan menemukan ada bangkai hewan serta hewan buruan. 272
    Pasal: Apabila seseorang yang sedang berihram menyembelih seekor hewan buruan karena mengalami keadaan darurat, 274
    Pasal: Apabila seseorang yang mengalami keadaan darurat tidak dapat menemukan apapun untuk dimakan, 274
    Pasal: Apabila seorang yang sedang mengalami keadaan darurat tidak menemukan apa-apa selain manusia yang diharamkan darahnya, 275
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila tidak ada makanan lain yang dapat dimakan kecuali sebuah makanan milik orang lain 276
    Pasal: Apabila kelaparan sudah semakin meluas di suatu musim paceklik hingga kedaruratan menimpa begitu banyak orang, 278
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Tidak ada larangan untuk memakan dhab (hewan melata lebih kecil dari biawak namun lebih besar dari kadal). 280
    Pasal: Begitu pula dengan hukum hyena. 282
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Larangan untuk memakan tiryaq (semacam obat penawar racun), 284
    Pasal: Tidak diperkenankan bagi umat Nabi Muhammad untuk berobat dengan yang haram, 284
    Pasal: Dihalalkan untuk memakan buah atau makanan lain yang terdapat ulat di dalamnya, 285
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Larangan untuk memakan hewan buruan yang dipanah dengan panah beracun, 285
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Larangan untuk memakan hewan yang bertempat tinggal di air 286
    Pasal: Adapun hewan-hewan lain yang tidak dapat hidup kecuali di dalam air, 288
    Pasal: Semua hewan buruan yang berasal dari air (laut atau lainnya) juga dihalalkan, kecuali katak. 289
    Pasal: Anjing laut itu halal dimakan. 291
    Pasal: Hukum Belut 292
    Pasal: hukum memakan ikan yang berada di perut ikan lainnya, atau berada di perut seekor burung laut, 292
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila suatu yang najis terjatuh pada cairan tertentu seperti minyak atau yang lain, 293
    Pasal: Lemak bangkai dan lemak babi tidak boleh dimanfaatkan untuk penerangan ataupun yang lainnya. 297
    Pasal: Apabila sebuah lentera dinyalakan dengan minyak yang najis, maka asapnya pun najis, 298
    Pasal: Adonan roti yang terdapat tikus. 298
    Pasal: memberikan bangkai sebagai makanan anjing atau burung yang dilatih untuk berburu. 299
    Pasal: makruh hukumnya memakan tanah. 300
    Pasal: Dimakruhkan pula untuk memakan bawang merah, bawang putih, 300
    Pasal: Dimakruhkan untuk memakan bagian beguk (gondok) dan cuping hidung (cingur). 302
    Pasal: Bagaimanakah hukum memakan keju. 303
    Pasal: Tidak diperbolehkan untuk membeli kacang yang dijadikan alat untuk bertaruh oleh anak-anak kecil 303
    Pasal: Ahmad mengatakan: Wajib hukumnya menjamu tamu muslim, 304
    Pasal: Al Marwazi menyatakan: Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah: 307
    Pasal: Dianjurkan agar mengucap basmalah saat memulai makan dan mengucap hamdalah saat sudah selesai. 310
    Pasal: Hendaknya makan dengan tangan kanan dan minum juga dengan tangan kanan. 311
    Pasal: Muhanna mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Ahmad tentang hadits Nabi 314
    Pasal: Rasulullah g tidak pernah meniup makanan ataupun minumannya. 314
    Pasal: Abu Abdillah pernah ditanya mengenai pencucian tangan dengan menggunakan bubuk tepung, 315
    Pasal: Abu Abdillah pernah ditanya mengenai pencucian tangan 315
    Pasal: Diriwayatkan, dari Anas, bahwasanya suatu ketika Nabi g datang ke rumah Saad bin Ubadah, 316
    KITAB: HEWAN KURBAN 317
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Berkurban itu hukumnya sunnah, 318
    Pasal: Berkurban lebih afdal dari sedekah jika setara nilainya. 319
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang ingin berkurban dan sudah masuk tanggal 10 Zulhijjah, 321
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Unta boleh disembelih untuk tujuh orang, dan begitu juga dengan sapi. 323
    Pasal: Tidak ada larangan jika seseorang menyembelih satu kambing, atau sapi, atau unta, 325
    Pasal: Hewan kurban yang paling afdal adalah unta, lalu sapi, lalu kambing, lalu joinan unta, lalu joinan sapi. 327
    Pasal: Disunnahkan agar hewan kurban digemukkan dan dipercantik penampilannya, 329
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Larangan menyembelih kambing sebagai kurban kecuali kambing itu telah cukup umur, 330
    Pasal: Hewan yang akan dijadikan kurban tidak boleh selain hewan ternak, 332
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Domba yang sudah cukup umur adalah domba yang sudah berumur lebih dari enam bulan dan memasuki bulan ketujuh. 332
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hal-hal yang harus dihindari dari hewan ternak yang akan dijadikan kurban; 333
    Pasal: Kebutaan pada kedua mata hewan yang akan dikurbankan lebih tidak diperbolehkan, 337
    Pasal: Hewan ternak yang telah dikebiri boleh dijadikan hewan kurban, 338
    Pasal: Hewan ternak yang tidak memiliki tanduk sejak lahir boleh dijadikan hewan kurban. 338
    Pasal: Dimakruhkan untuk menjadi hewan kurban apabila hewan tersebut terpotong kupingnya, 340
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila hewan yang akan dikurbankan sudah ditunjuk, 341
    Pasal: Apabila seseorang bernadzar untuk menyembelih seekor hewan ternak, 342
    Pasal: Apabila hewan yang telah ditetapkan untuk dijadikan sebagai hewan kurban ternyata hilang atau mati, 343
    Pasal: membeli seekor hewan untuk dijadikan sebagai hewan kurban namun ada cacatnya yang diketahui kemudian. 345
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila hewan kurban melahirkan anaknya maka anak itu harus disembelih bersama induknya. 347
    Pasal: Air susu hewan yang telah ditetapkan sebagai hewan kurban tidak boleh diminum. 348
    Pasal: Bulu pun jika dengan mencukurnya akan lebih bermanfaat bagi hewan yang akan dikurbankan, 350
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Penetapan hewan kurban harus diucapkan dengan lisan bahwa hewan itu adalah hewan kurban. 351
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila hewan yang ditetapkan sebagai hewan kurban ternyata tidak sempurna, 351
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hewan yang telah ditetapkan sebagai hewan kurban tidak boleh dijual 353
    Pasal: hukum berkurban atas nama anak yatim dengan menggunakan hartanya sendiri. 354
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Anjuran untuk memakan sendiri sepertiga dari hewan kurbannya, 356
    Pasal: Diperbolehkan untuk menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari, 360
    Pasal: Diperbolehkan bagi orang yang berkurban untuk memberikan daging hewan kurbannya kepada orang kafir. 361
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Larangan untuk memberikan bagian dari hewan kurban kepada penjagal hewan 362
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Orang yang berkurban boleh mengambil manfaat dari kulit hewan kurban, 362
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Pembolehan menukar hewan kurban dengan hewan yang lebih baik 365
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila telah masuk waktu siang di hari raya kurban, 368
    Pasal: Apabila waktu terakhir untuk menyembelih hewan kurban telah berlalu. 375
    Pasal: Jika hewan kurban hilang atau dicuri tanpa ada kelalaian, maka tidak perlu mengganti dengan hewan yang lain. 376
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang menyembelih hewan kurbannya sebelum waktu yang disyariatkan, 377
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Tidak dianjurkan penyembelihan hewan kurban dilakukan oleh selain muslim, 378
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Kalimat yang diucapkan ketika menyembelih adalah, bismillaahi wallaahu akbar. 380
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Tidak perlu bagi orang yang hendak menyembelih untuk menyebutkan nama orang yang berkurban, 382
    Pasal: Hukum hewan kurban yang disembelih orang lain tanpa seizinnya. 382
    Pasal: Apabila seseorang bernadzar untuk menyembelih seekor hewan untuk dikurbankan, 383
    Pasal: Tidak boleh menyembelih hewan kurban dengan mengatas namakan janin yang belum terlahir. 384
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Tujuh orang boleh berjoin untuk berkurban secara patungan, 385
    Pasal: Diperbolehkan bagi mereka yang berjoin untuk memilah daging hasil sembelihannya. 386
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Hukum aqiqah itu disunnahkan. 386
    Pasal: Aqiqah lebih afdal dari sedekah yang setara nilainya. 390
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Dua kambing untuk aqiqah anak laki-laki dan satu kambing untuk aqiqah anak perempuan. 391
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Penyembelihan hewan untuk aqiqah dilakukan ketika bayi berumur tujuh hari. 393
    Pasal: Dianjurkan pula pada hari ketujuh itu untuk menggunting rambut bayi dan memberikan nama. 395
    Pasal: Dimakruhkan untuk mengusap atau melumuri kepala anak dengan darah. 397
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Segala cacat yang harus dihindari pada hewan kurban juga harus dihindari pada hewan aqiqah. 399
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Pendistribusian yang berlaku pada daging kurban juga berlaku pada daging aqiqah, 400
    Pasal: kulit, kepala, dan bagian isi perutnya (jeroan) hewan aqiqah boleh dijual dan hasil penjualannya disedekahkan. 402
    Pasal: seorang ayah dianjurkan agar mengumandangkan adzan di telinga anaknya yang baru saja dilahirkan. 403
    Pasal: tentang Fara’ah dan atirah. 405
    KITAB PERLOMBAAN DAN PERTANDINGAN 409
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Perlombaan hanya untuk nashl (panah), hafir (kuda), 414
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila keduanya ingin berlomba, 416
    Pasal: Perjanjian dalam perlombaan adalah akad yang diperbolehkan saja. 418
    Pasal: Disyaratkan agar status hadiahnya harus diketahui. 419
    Pasal: Apabila pihak yang ditantang memberi syarat kepada penantang untuk memberi makan kepadanya. 420
    Pasal: Apabila pemberi hadiah bukan dari pihak yang bertanding. 422
    Pasal: Apabila pemberi hadiah berkata kepada sepuluh orang peserta lomba: 424
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila ada dua orang yang berlomba dan kedua-duanya menjanjikan hadiah maka hukumnya tidak diperbolehkan, 426
    Pasal: Pertandingan yang menggunakan hewan. 429
    Pasal: Disyaratkan agar hewan yang bertanding dari jenis hewan yang sama. 434
    Hal-Hal Yang Terkait Dengan Munadhalah 434
    Pasal: Perlombaan memanah ada tiga macam. 438
    Pasal: keharusan para peserta menentukan bentuk perlombaan yang akan mereka lakukan. 441
    Pasal: Apabila kedua peserta bersepakat untuk memberi kelonggaran jika ada panah yang terkena sesuatu 442
    Pasal: Menurut sunnah (yakni sesuai syariat), kedua peserta harus memiliki dua target, 443
    Pasal: Apabila kedua peserta sepakat untuk memanah dalam jumlah yang banyak maka hal itu diperbolehkan, 446
    Pasal: Apabila salah satu dari peserta terlihat seperti mencoba untuk memperlambat jalannya pertandingan atau melakukan sesuatu yang tidak diperlukan, 447
    Pasal: Apabila antara kedua peserta terjadi silang pendapat mengenai tempat berdiri dan tidak ada yang mau mengalah, 448
    Pasal: Akad perlombaan memanah juga boleh dilakukan secara berjamaah, 448
    Pasal: Apabila seorang pemberi hadiah masuk ke dalam salah satu kelompok. 450
    Pasal: anak panah yang digunakan harus sesuai jumlahnya dengan jumlah semua pemanah yang ada. 451
    Pasal: Apabila pertandingan dilakukan antar dua kelompok, 451
    Pasal: Dalam sebuah pertandingan tidak boleh dikatakan: ‘mari kita undi saja, 452
    Pasal: Apabila ada dua orang yang bertanding panahan, dan satu orang di antaranya adalah pemberi hadiah, 453
    Pasal: Apabila sudah berlangsung pertandingan, lalu salah satu peserta ternyata mendapatkan lebih banyak target yang dikenainya, 454
    Pasal: Apabila kedua peserta pertandingan menyepakati agar tembakan yang terhitung terkena sasaran 454
    Pasal: Apabila target ditiup oleh angin dan ternyata panahnya tertancap pada tempat target. 455
    Pasal: Apabila pemanah telah melepaskan anak panahnya lalu anak panah itu tidak terkena target 456
    Pasal: Apabila kedua peserta pertandingan menyepakati syarat khawasiq, 457
    Pasal: Apabila kedua peserta pertandingan menyepakati syarat khawasiq (terkena target dan menancap), 459
    Pasal: Apabila ada seseorang berkata kepada pemanah: Panahlah target itu, 460
    Pasal: tidak menyebutkan jenis busur yang digunakan. 462
    Pasal: Dari pernyataan Ahmad yang eksplisit dapat diambil kesimpulan bahwa ia memperbolehkan pemanah 463
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Larangan bagi penunggang kuda untuk membawa kuda lain selain kuda 465
    KITAB SUMPAH 468
    Pasal: Sumpah bagi setiap mukallaf yang tidak terpaksa melakukannya dan menginginkannya hukumnya sah, 470
    Pasal: Sumpah yang diucapkan oleh orang kafir juga dianggap sah. 471
    Pasal: Tidak boleh bersumpah dengan selain nama Allah atau sifat-Nya. 472
    Pasal: Dimakruhkan untuk berlebihan dalam bersumpah atas nama Allah, 477
    Pasal: Sumpah dilihat dari segi hukumnya terbagi menjadi lima, 480
    Pasal: Ketika sebuah sumpah diucapkan untuk melakukan kewajiban atau meninggalkan yang diharamkan, 487
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang bersumpah untuk melakukan sesuatu, lalu ia tidak melakukannya, 489
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila dilanggar karena lupa, 492
    Pasal: Apabila seseorang melanggar sumpahnya karena tidak mengenali orang yang dikaitkan dengan sumpahnya, 494
    Pasal: Sedangkan untuk orang yang dipaksa (di bawah tekanan) untuk melakukan sesuatu yang dapat melanggar sumpahnya terbagi menjadi dua, 495
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang bersumpah terhadap sesuatu, 496
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Kafarat itu hanya diharuskan bagi orang yang mengucapkan kalimat sumpah dengan maksud untuk bersumpah. 499
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang bersumpah terhadap sesuatu yang diyakini olehnya seperti itu namun ternyata tidak, 501
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Sumpah yang dikenakan kafarat untuk pelanggarannya hanyalah sumpah 504
    Pasal: Bersumpah dengan menggunakan sifat Allah juga sama hukumnya seperti menggunakan nama Allah. 507
    Pasal: Apabila ada seseorang berkata: wa haqqullah (demi hak Allah), maka ucapan ini termasuk sumpah yang berakibat kafarat bila dilanggar. 510
    Pasal: Apabila seseorang berkata: la’amrullaahi (demi keabadian Allah), 511
    Pasal: Apabila seseorang berkata: wa aymullah atau wa aymanullah (keduanya bermakna demi Allah), 515
    Pasal: Harful qasam (yakni kata yang khusus digunakan untuk bersumpah) ada tiga; 515
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah tanpa menyertakan huruf sumpah, 517
    Pasal: Objek sumpah dapat diketahui melalui empat kata, 519
    Pasal: Apabila seseorang berkata: laahallaah (tidak demi Allah), 520
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Atau dengan ayat Al Qur‘an. 520
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah atas nama mushaf, maka sumpahnya dianggap sah. 522
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Atau dengan menyedekahkan hartanya atau dengan melakukan ibadah haji. 522
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Atau dengan perjanjian. 525
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Atau dengan pernyataan keluar dari agama Islam. 528
    Pasal: melanggar sumpah. 529
    Pasal: Meskipun tanpa kafarat, seseorang dilarang untuk bersumpah seperti itu, 531
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Atau mengharamkan seluruh atau sebagian dari hartanya bagi dirinya sendiri. 531
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Atau ia berkata, uqsimu billaah, atau asyhadu billaah, atau a’zimu billaah 535
    Pasal: Apabila seseorang berkata: ahlifu billaah, atau uulii billah, atau halaftu billaah, 538
    Pasal: Apabila seseorang hanya berkata: aqsamtu, atau aalaytu, atau halaftu, atau syahidtu 538
    Pasal: Apabila seseorang berkata: a’zimu atau ‘azamtu tanpa kalimat billaah, maka kalimat itu bukan termasuk kalimat sumpah, 540
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Atau bi amaanatillaah (demi amanat Allah). 541
    Pasal: Apabila seseorang berkata: wal amanati maa fa’altu 543
    Pasal: Bersumpah dengan menggunakan kata amanat ini hukumnya dimakruhkan, 544
    Pasal: Tidak sah pula sumpah yang mengatas namakan makhluk ciptaan Allah, 544
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang bersumpah dengan menggunakan semua kalimat yang disyariatkan, 545
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah satu kali dengan objek yang berbeda-beda, 548
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang bersumpah dengan dua sumpah terhadap 551
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang bersumpah dengan mengatakan: 552
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Riwayat dari Abu Abdillah terkait seseorang yang bersumpah untuk menyembelih anaknya 554
    Pasal: Apabila seseorang bernadzar untuk membunuh dirinya sendiri atau membunuh orang lain, 558
    Pasal: wanita yang bernadzar untuk menyembelih anaknya. 559
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang bersumpah untuk membebaskan apa yang dimilikinya 560
    Pasal: Apabila seseorang berkata: jika aku melakukan hal itu, 562
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah untuk membebaskan semua hamba sahaya yang dimilikinya, 563
    Pasal: Apabila seseorang berkata: hamba sahaya si fulan terbebaskan jika kamu masuk ke dalam rumah itu, 564
    Pasal: Apabila seseorang berkata: jika aku melakukan hal itu maka harta si fulan dishadaqahkan, 565
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang mengucapkan kalimat sumpah, 566
    Pasal: jika kafarat ditunaikan sebelum adanya sumpah. 569
    Pasal: Untuk keutamaan, menunaikan kafarat sebelum dan setelah pelanggaran terjadi itu sama utamanya. 569
    Pasal: pabila sumpah yang diucapkan merupakan sumpah yang terlarang, 570
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang bersumpah, 571
    Pasal: Disyaratkan pula agar istitsna‘ itu diucapkan dengan lisan, 573
    Pasal: Al Qadhi juga mensyaratkan agar pengucapan istitsna‘ itu diiringi dengan niat atau maksud. 574
    Pasal: Istitsna boleh digunakan pada setiap kalimat sumpah yang berkonsekuensi hukuman kafarat atas pelanggarannya, 575
    Pasal: Apabila seseorang berkata: demi Allah aku akan minum hari ini kecuali Allah berkehendak lain, 575
    Pasal: Apabila seseorang berkata: demi Allah aku akan minum hari ini jika Zaid berkehendak, 576
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang beristitsna‘ 577
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang berkata: ‘Jika aku nikahi si fulanah 579
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang bersumpah untuk tidak menikahi seorang wanita tertentu, 583
    Pasal: Bentuk apapun yang digunakan pada kalimat tersebut, baik bentuk lampau (past tense) atau bentuk akan datang (future tense) sama saja. 584
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah tidak akan melakukan pembelian, 585
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah untuk tidak melakukan pembelian atau tidak melakukan pernikahan, 586
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah untuk tidak menikah, 588
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah tidak menikah secara sirri, 590
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah untuk tidak menghibahkan sesuatu kepada fulan, 591
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang bersumpah untuk tidak membeli sesuatu dari si fulan, 593
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah untuk menceraikan istrinya, atau tidak menceraikan istrinya, 596
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah untuk tidak memukul istrinya, 597
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang bersumpah untuk tidak melakukan sesuatu sebagai syarat 598
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila seseorang mengucapkan sumpah, 599
    Pasal: Terkadang, seseorang bersumpah dengan sesuatu yang mustahil, 605
    Pasal: Apabila seseorang berkata: demi Allah fulan akan melakukan hal itu, 607
    Pasal: Telah ditetapkan bahwa Nabi g memerintahkan agar apa yang menjadi sumpah harus ditunaikan, 608
    Pasal: Dianjurkan agar memberikan santunan kepada peminta-minta yang menyebut nama Allah. 609
    Pasal: Apabila seseorang berkata: aku telah bersumpah, namun ia sebenarnya tidak pernah bersumpah, 610
    Pasal: Apabila seseorang bersumpah untuk tidak menyentuh sesuatu, atau ia mengharamkannya bagi dirinya sendiri, 612
    KITAB KAFARAT 614
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Barangsiapa yang diwajibkan atasnya untuk menanggung kafarat atas pelanggaran sumpah, 615
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Bagi setiap orang miskin itu diberikan satu mud biji gandum atau tepung, 621
    Pasal: Lebih afdhal jika makanan yang diberikan masih berupa biji gandum, 624
    Pasal: Diwajibkan agar makanan yang diberikan untuk kafarat adalah makanan yang baik dan terhindar dari cela, 624
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila makanan itu diganti dengan uang yang nilainya lebih besar dari harga makanan itu 625
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Pelanggar sumpah boleh memberikan makanan yang menjadi kafaratnya kepada kerabatnya, 627
    Pasal: Semua yang tidak diperbolehkan untuk menerima zakat, seperti orang kaya, orang kafir, 627
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Apabila tidak ditemukan orang- orang miskin lain kecuali hanya satu saja, 628
    Pasal: Apabila pelanggar sumpah menunaikan kafaratnya dengan memberi makan satu orang miskin 631
    Pasal: Apabila seseorang memberi makan kepada satu orang miskin dalam satu hari untuk dua kafarat (dua kali lipat), 633
    Masalah: Abu Al Qasim berkata: Pilihan lain untuk pelanggar sumpah yang harus menanggung kafaratnya adalah 634
    Pasal: Bahan pakaian tersebut boleh berasal dari apapun, baik katun, katan, 636
    Pasal: Orang-orang yang boleh diberikan pakaian adalah orang-orang yang diperbolehkan untuk diberi makan, 637

    Al Mughni jilid 14

    Untuk pemesanan, ketik Nama_Alamat_Judul Buku & Jumlah kirim SMS/Whats App ke 087 8080 33400
    -!
    PROMO Menarik GRATIS ONGKIR 1KG WAHANA untuk JABODETABEK ATAU SUBSIDI ONGKIR Rp 5.000 untuk NON-JABODETABEK dengan minimum pembelian Rp 150.000,- sampai Desember 2018. Tunggu apalagi? NB: harga sewaktu-waktu dapat berubah, tergantung katalog terbaru dari penerbit. Untuk stok buku paling update, mohon konfirmasi via SMS/Whatsapp kami.

    Komentar dinonaktifkan: Al Mughni jilid 14

    Maaf, form komentar dinonaktifkan untuk produk/artikel ini